Inkubator Gratis, Penyambung Nyawa Bayi Prematur

Inkubator Gratis, Penyambung Nyawa Bayi Prematur (Anadolu Agency, 18 Mei 2018)

Sudah lebih dari 2.000 bayi prematur selamat berkat bantuan inkubator gratis

Inkubator Gratis, Penyambung Nyawa Bayi Prematur inkubator gratis Inkubator Gratis, Penyambung Nyawa Bayi Prematur (Anadolu Agency, 18 Mei 2018) Inkubator Gratis Penyambung Nyawa Bayi Prematur

Hartati bersama kedua bayinya yang tumbuh sehat setelah menggunakan inkubator gratis hasil produksi Raldi Artono Koestoer, di Menteng Jaya, Jakarta Timur, Kamis 17 Mei 2018. (Hayati Nupus – Anadolu Agency)

Hayati Nupus

JAKARTA

Sutisno dan Hartati menangis tersedu saat melihat langsung tubuh kedua anak kembarnya yang baru lahir. Di salah satu rumah sakit di Jakarta, pada tubuh bayi yang kemudian diberi nama Gina Nadira dan Gita Nafisa itu terpasang aneka selang agar keduanya dapat bertahan hidup.

Hamil di usia 43 tahun, kedua bayi Hartati sudah lahir di usia kehamilan 7 bulan, 17 Maret lalu. Lahir dengan prematur, bobot kedua bayi itu masing-masing hanya satu kilogram.

“Saya tidak kuat melihatnya, kecil sekali, hanya seukuran botol air mineral,” kenang Sutisno, Kamis, kepada Anadolu Agency.

Selama 47 hari Gina dan Gita hidup dalam inkubator di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU) rumah sakit. Namun fasilitas BPJS Kesehatan terbatas. Meski bobot mereka baru 1,6 kilogram dan fisiknya masih lemah, keduanya harus segera pulang, tak bisa lagi dirawat di rumah sakit. Padahal berat badan bayi baru bisa disebut normal jika bobotnya telah mencapai 2,5 kilogram.

Dokter rumah sakit mengatakan Gina dan Gita harus harus dirawat dengan metode gendongan kanguru selama 24 jam di rumah, agar kehangatan mereka terjaga. Namun itu sulit, Sutisno harus bekerja sedang Hartati harus merawat kedua bayinya bergantian.

Kalaupun menyewa NICU di rumah sakit, Sutisno tak sanggup bila tanpa bantuan BPJS Kesehatan. Biaya sewa satu inkubator di rumah sakit Rp 2 juta per hari. Artinya Sutisno harus membayar Rp 28 juta untuk sewa inkubator selama dua pekan saja. Sebagai seorang buruh perawatan gedung dengan gaji bulanan sebesar UMP, Sutisno tak sanggup membayar sejumlah itu.

Harapan muncul saat Sutisno memperoleh informasi soal program peminjaman inkubator gratis dari Yayasan Bayi Prematur Indonesia. Sutisno menghubungi nomor ponsel yang ia peroleh dari internet, kemudian dua inkubator bantuan datang.

“Tubuh anak saya sempat ngedrop ketika baru sampai di rumah. Inkubator datang, kini mereka aman, bisa tidur dengan nyaman dan kami tak was-was lagi,” tutur Sutisno panjang lebar.

inkubator gratis Inkubator Gratis, Penyambung Nyawa Bayi Prematur (Anadolu Agency, 18 Mei 2018) Gina dan Gita

Bayi Kembar Gina dan Gita

Baru dua pekan menggunakan inkubator gratis, bobot Gina dan Gita kini masing-masing sudah 2 kilogram. Kalau tak ada aral melintang, dua pekan lagi, setelah bobotnya 2,5 kilogram, mereka bisa hidup tanpa inkubator.

Laporan World Health Organisation (WHO) berjudul Born Too Soon, The Global Action Report on Preterm Birth menyebutkan terdapat 15 juta bayi lahir prematur pada 2010. Jumlah itu dari total 135 juta kelahiran atau 11,1 persennya.

Indonesia menempati posisi kelima tertinggi di dunia, 675.700 bayi, atau 15,5 kasus dari setiap 100 kelahiran. Posisi ini setelah India, Tiongkok, Nigeria dan Pakistan.

Seorang bayi disebut prematur jika lahir pada usia kehamilan kurang dari 37 pekan. Bayi prematur berisiko terkena berbagai penyakit, hingga kematian.

WHO mencatat lebih dari satu juta bayi prematur itu meninggal akibat komplikasi. Kalaupun selamat, banyak yang mengalami gangguan fisik atau kognitif.

Inkubator Gratis

Berbekal keprihatinan akan tingginya angka bayi prematur berikut kemiskinan di Indonesia, Raldi Artono Koestoer mendirikan Yayasan Bayi Prematur Indonesia. Profesor di Fakultas Teknik Mesin Universitas Indonesia ini berhasil memproduksi inkubator sekaligus meminjamkannya secara cuma-cuma kepada warga tak mampu.

Raldi memulai riset inkubator ini pada 1994, berupa nampan dengan pemanas bertutupkan kardus. Riset sempat terhenti, dan berlanjut dengan produksi inkubator generasi pertama pada 2001. Tahun berikutnya, bersama mahasiswanya, inkubator besar ini turut serta dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional di Solo, Jawa Tengah.

inkubator gratis Inkubator Gratis, Penyambung Nyawa Bayi Prematur (Anadolu Agency, 18 Mei 2018) Mengajar

Pada 2008 Raldi sempat bekerja sama dengan perusahaan untuk memproduksi inkubator secara massal, namun pecah kongsi pada tahun berikutnya. Raldi lebih memilih memproduksi sendiri dengan harga murah agar terjangkau bagi warga miskin. Januari 2012 Raldi mulai meminjamkan inkubator secara cuma-cuma kepada warga tak mampu.

Teknologi inkubator ini sebetulnya sederhana, berupa lampu pijar sebagai pemanas dengan sirkulasi udara agar panas menyebar. Raldi melengkapinya dengan pengukur suhu. Bayi prematur biasanya membutuhkan suhu hangat berkisar 33-35 derajat celcius.

inkubator gratis Inkubator Gratis, Penyambung Nyawa Bayi Prematur (Anadolu Agency, 18 Mei 2018) Diskusi

Seiring berjalannya waktu, inkubator yang mulanya berukuran besar seperti di rumah sakit kini beralih rupa menjadi inkubator portable dengan daya 50 watt saja. “Sesuai kebutuhan, karena kalau ukurannya besar kami sulit mendistribusikan ke gang-gang kecil atau wilayah-wilayah terpencil di Indonesia,” ujar Raldi. Dengan watt sekecil itu, kata Raldi, orang tua bayi pun tak perlu khawatir biaya listrik akan membengkak.

Relawan Adalah Kunci

Kesuksesan program sosial inkubator gratis Raldi tak lepas dari peran tangan-tangan relawan. Merekalah yang menjadi perpanjangan tangan hingga inkubator sampai ke orang tua bayi prematur. Berkat jasa para relawan, saat ini sudah 200 unit inkubator gratis tersebar di 64 wilayah di seantero Nusantara.

Menjadi relawan inkubator gratis tak hanya berbekal niat baik. Mereka harus mengganti ongkos produksi Rp 3,5 juta tiap inkubator, sekaligus mengantar dan menjemput inkubator ke rumah orang tua bayi prematur. Relawan juga dilarang memperoleh bayaran dari orang tua pengguna inkubator.

Mengingat kondisi geografis Indonesia berupa negara kepulauan, tak jarang, relawan harus mendaki bukit dan menyeberang pulau agar bayi prematur dapat memperoleh bantuan inkubator. Seperti yang terjadi tiga bulan lalu, tutur Raldi. Relawan asal Surabaya harus menempuh ratusan kilometer dan menyeberang pulau agar inkubator sampai ke Sumenep, Madura, tempat bayi prematur berada. Juga relawan asal Jember yang harus melewati hutan dan perbukitan demi mengantar inkubator ke ujung Banyuwangi.

Berkat hati baik relawan itu, kini tercatat sudah lebih dari 2.000 bayi selamat berkat inkubator gratis dari Yayasan Bayi Prematur Indonesia. “Setiap ada bayi yang tertolong, kami jadi ikut terharu, ikut bahagia,” kata Raldi, yang kini memperoleh sebutan bapak bayi prematur Indonesia.

Peminjaman Inkubator Gratis

Peminjaman Inkubator Gratis

Inovasi Inkubator Gratis

Pengembangan Inkubator Gratis

Penemuan Inkubator Gratis

Cara Kerja Inkubator Gratis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *