Pelopor, Pejuang Kemanusiaan di Jonggol

Pelopor, Pejuang Kemanusiaan di Jonggol (DetikHealth, September 2019)

Pelopor, Pejuang Kemanusiaan di Jonggol

  • Pelopor, Pejuang Kemanusiaan di Jonggol

    Pasangan Enny dan Lugi asal Jonggol yang menjadi pelopor peminjaman inkubator. Foto: Adelia Putri/detikHealth

  • Inkubator gratis yang dipinjamkan. Foto: Adelia Putri/detikHealth

  • Tolib mendapat pinjaman kursi roda. Foto: Adelia Putri/detikHealth

  • Tolib mendapatkan pinjaman kursi roda. Foto: Adelia Putri/detikHealth

  • Pelopor, Pejuang Kemanusiaan di Jonggol

    Relawan inkubator gratis di Jonggol standby 24 jam melayani masyarakat. (Foto: Adelia Putri/detikHealth)

Berikut kompilasi liputan mengenai Agen Relawan kami yang telah menjadi garda terdepan sekaligus pelopor dan pejuang kemanusiaan di Jonggol. Adalah pasangan suami istri Enny Bonaventura dan Lugi Riyandi. Tak hanya inkubator dan lampu fototerapi saja, keduanya juga meminjamkan kursi roda secara gratis. Dan kini semua kegiatan itu berada dalam naungan sebuah yayasan yang mereka namai dengan Yayasan Roda Harapan Indonesia.

Kisah Pasutri Pelopor Peminjaman Inkubator Gratis di Bogor

Rumah di Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor itu tampak hampir sama dengan rumah-rumah di kawasan perumahan pada umumnya. Bedanya, dua buah plang bertuliskan ‘Yayasan Roda Harapan Indonesia’ dan ‘pinjam inkubator gratis’ menghiasi bagian luar rumah.

Adalah Bonaventura Zita Enny Wati dan Lukas Lugi Riyadi, pemilik rumah yang beralamat di Perumahan Citra Indah, Bukit Mahoni Luar Blok S.00 no. 78 tersebut. Pasangan suami istri ini mendedikasikan hidupnya sebagai relawan sosial yang meminjamkan inkubator, fototerapi, dan pelbagai alat kesehatan lainnya bagi mereka yang membutuhkan. Pasien pun bisa meminjam tanpa dibebankan biaya sepeserpun.

Semua bermula dari tahun 2015. Kala itu tetangga mereka yang seorang orang tua tunggal, harus melahirkan bayi secara prematur. Akibat kekurangan biaya, tetangga sekitar berinisiatif mengumpulkan dana. Lugi kemudian teringat sosok Prof Dr Ir Raldi Artono Koestoer DEA, Guru Besar Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia yang menjadi narasumber di acara Kick Andy. Prof. Raldi merupakan pelopor layanan peminjaman inkubator gratis yang tersedia di seluruh Indonesia.

“Lalu suami browsing, dapat infonya, coba kirim SMS. Tapi waktu itu enggak berhasil. Berpulanglah sang bayi, tidak bisa pinjam inkubator. Tapi di informasi yang didapat itu kita juga bisa bergabung menjadi relawan peminjaman inkubator gratis,” tutur Enny saat ditemui di rumahnya, Jumat (17/9/2019).

Di awal tahun 2015 itu, relawan yang akan meminjamkan inkubator gratis harus mengganti uang produksi inkubator sebesar sekitar Rp2,5 juta kepada Prof. Raldi. Enny dan Lugi lantas mengumpulkan dana bersama teman-teman komunitasnya. Beberapa bulan kemudian setelah uang terkumpul, belakangan baru diketahui syarat bergabungnya adalah membayar produksi minimal 2 unit inkubator.

“Kami enggak putus asa, tetap nego ke Prof. Raldi. ‘Satu dulu ya… di Jonggol itu belum ada peminjaman inkubator gratis.’,” kenang Enny.

Sebuah inkubator mengawali perjalanan Enny dan Lugi untuk memberi bantuan kepada bayi prematur yang lahir di keluarga kurang mampu dan juga bayi prematur yang kehabisan stok inkubator dari rumah sakit.

Kini, mereka sudah membentuk yayasan bernama Yayasan Roda Harapan Indonesia. Naik turun desa untuk mengantarkan alat kesehatan pun bukan masalah, meski belum mempunyai kendaraan operasional. Sekarang mereka sudah mempunyai total 11 inkubator, 4 unit fototerapi, serta beberapa kursi roda, tabung oksigen, dan alat bantu berjalan yang dananya dihimpun bersama-sama kawannya.

Selain Pinjamkan Inkubator Gratis, Juga Kerap Bantu Dinsos

Pasangan suami istri Bonaventura Zita Enny Wati (52) dan Lukas Lugi Riyadi (47) sudah 4 tahun belakangan menjadi relawan peminjaman inkubator gratis di Jonggol, Bogor. Kini pemerintah setempat juga bekerja sama dengan mereka.

Enny dan Lugi menyediakan layanan pinjam inkubator, fototerapi, kursi roda, dan berbagai macam alat kesehatan bagi mereka yang membutuhkan secara gratis. Mereka awalnya bergerak sendiri dan sekarang sudah membentuk Yayasan Roda Harapan Indonesia.

Lambat laun, pemerintah melalui Dinas Sosial mengajak Enny dan Lugi untuk menolong warganya yang butuh alat bantu kesehatan.

Pun demikian, dengan fasilitas di rumah sakit daerah yang menurutnya belum banyak menyediakan inkubator. Ada juga pasien yang memilih merawat bayi prematurnya di rumah. Alhasil, Enny dan suami kerap keliling Bogor memberi pinjaman inkubator dan alat kesehatan.

“Se-kabupaten Bogor itu ada 40 kecamatan, rata-rata sudah pernah kami pinjamkan,” kata Enny pada Jumat (13/9/2019).

Dia pun mengaku pemerintah belum pernah memberi suntikan dana. Untuk membelikan kursi roda maupun alat lain, semua berasal dari yayasan. Saat penyerahan ke pasien, Lugi dan Enny lantas bekerja sama dengan posyandu atau kepala daerah setempat.

Pinjamkan Juga Kursi Roda Gratis

Sore itu mobil yang dikendarai Lukas Lugi Riyadi (47) dan istrinya, Bonaventura Zita Enny Wati (52) berguncang melewati jalan di antara sawah. Mobil kemudian berkelok masuk ke jalan kampung dan berhenti di halaman sekolah dasar. Di sisi seberang tak jauh dari situ, Tolib (29) menyambut Lugi dan Enny di depan rumahnya.

Maksud kedatangan Lugi dan Enny tak lain adalah ingin meminjamkan sebuah kursi roda pada Tolib, seorang penyandang disabilitas. Tolib tinggal bersama ibunya di sebuah rumah sederhana yang terletak di Desa Sukajaya, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor.

Sewaktu berumur sekitar 6 tahun, Tolib terjatuh saat bermain dan tulang pahanya patah. Keluarganya saat itu hanya membawanya ke tukang urut.

“Belajar jalan pakai tongkat tapi jatuh lagi, patah lagi, tangan juga. Sampai sekarang enggak belajar lagi,” tutur Tolib kepada detikcom, Jumat (13/9/2019).

Alhasil dia tak bisa berjalan sampai sekarang. Penghasilannya dan penghasilan sang ibu sebagai pembuat tusuk sate tak mampu membelikannya kursi roda. Sehari-hari Tolib diam di rumah. Hanya ketika berobat saja ia pergi keluar rumah diantar keponakannya.

Enny dan Lugi mendapat permintaan kursi roda untuk Tolib dari Omin yang merupakan pekerja sosial masyarakat untuk daerah Desa Sukajaya. Dia yang mengusulkan sekaligus bertanggung jawab atas kursi roda yang dipinjamkan dari Yayasan Roda Harapan Indonesia.

“Saya ngucapin terima kasih sama bapak-bapak ini semuanya. Ya enggak bisa ngucapin juga sih, Mbak. Kalau mau beli, enggak bakalan bisa kebeli ini,” kata Tolib yang sebelumnya sudah menunggu sekitar 3 minggu atas kursi rodanya.

Turut hadir pula Ketua RT 03 Desa Sukajaya Apoy Kurniawan. Dia juga menyampaikan banyak terima kasih dan berharap kursi roda bisa membantu pekerjaan Tolib di rumah.

Tolib bukanlah satu-satunya pasien yang Lugi dan Enny berikan bantuan pinjaman berupa kursi roda. Pasutri tersebut sudah biasa berkeliling Bogor untuk mengantarkan inkubator, kursi roda, dan alat kesehatan lainnya.

Tak Kenal Jam Kerja, Standby 24 Jam

Sosok Enny dan Lugi sebagai pasutri relawan peminjaman inkubator gratis di Jonggol, Bogor sudah tak asing lagi bagi masyarakat sekitar. Keduanya sigap menolong warga, bahkan sampai dimintai tolong mengobati kucing.

“Sampai saat ini kami dikenal sebagai 911-nya Jonggol. Mulai dari pasien manusia sampai kucing sakit. ‘Ibu, kucing aku sakit, aku enggak bisa keluar anak aku kecil-kecil repot bawanya’ ‘Oh iya’. Telpon dokter hewan langsung ke situ,” tutur Bonaventura Zita Enny Wati (52) atau yang biasa dipanggil Enny, istri dari Lukas Lugi Riyadi (47) pada Jumat (13/9/2019) lalu.

Mereka sudah berdedikasi memberikan pinjaman inkubator gratis sejak 2015. Bukan hanya inkubator, Lugi dan Enny juga menyediakan beragam alat kesehatan yang bisa dipinjamkan oleh mereka yang membutuhkan.

Tak jarang, keduanya kerap mendapat panggilan pinjaman inkubator walau sudah dini hari. Padahal baik Lugi dan Enny bukanlah dokter atau berlatar belakang di bidang kesehatan.

“Karena kami ini rumah pribadi, maka kami sudah komitmen dengan istri tidak ada jam kerja. Artinya kita 24 jam standby. Pernah ada pengalaman jam 1 malam, sampai jam 3 dini hari itu tetap kami layani karena kami bisa mengerti mereka itu dalam kondisi panik membutuhkan. Jadi rumah kami terbuka untuk keluarga yang memerlukan inkubator ini,” jelas Lugi.

Mengobati Pejuang Kemanusiaan
Mempelopori Pejuang Kemanusiaan
Melindungi Pejuang Kemanusiaan

Leave a Reply

Your email address will not be published.