Bayi Prematur Syafiq Mampu Bertahan Hidup Berkat Inkubator Gratis YABAPI

Bayi Prematur Syafiq Mampu Bertahan Hidup Berkat Inkubator Gratis YABAPI (NYATA MEDIA, 26 Juni 2026)

Bayi Prematur Syafiq Mampu Bertahan Hidup Berkat Inkubator Gratis YABAPI

NYATA MEDIA — Tangis pertama Muhammad Al Syafiq pada 1 Maret 2026 di RSU Sembiring Delitua, Medan, menjadi momen yang tak akan pernah dilupakan kedua orang tuanya, Habibah dan Anwar Hadi. Namun, di balik kebahagiaan itu, tersimpan kekhawatiran besar.

Syafiq lahir prematur dengan berat badan hanya 1.110 gram dan panjang tubuh 36 sentimeter. Tubuh mungilnya belum mampu menyesuaikan diri dengan suhu di luar rahim sehingga ia harus segera mendapatkan perawatan intensif di dalam inkubator.

Alih-alih bisa langsung memeluk buah hati di rumah, Habibah dan Anwar harus menyaksikan anak mereka menjalani hari-hari pertama kehidupan di balik dinding transparan inkubator, dipantau oleh tenaga medis selama 24 jam.

Bagi pasangan ini, masa-masa tersebut menjadi ujian emosional yang luar biasa. Selama lebih dari satu bulan, Syafiq menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Setiap gram kenaikan berat badan menjadi kabar menggembirakan bagi keluarga.

Sebagai bayi prematur, perkembangan sekecil apa pun menjadi kemenangan besar. Habibah tak pernah lelah memberikan ASI, menemani sang buah hati, serta memanjatkan doa agar kondisi Syafiq terus membaik. Sementara Anwar Hadi memastikan seluruh kebutuhan perawatan putranya dapat terpenuhi.

Kebahagiaan akhirnya datang pada 8 April 2026 ketika dokter mengizinkan Syafiq pulang. Namun, perjalanan belum selesai. Meski telah meninggalkan rumah sakit, kondisi tubuh Syafiq masih membutuhkan suhu yang stabil agar organ-organ tubuhnya berkembang dengan baik. Karena itu, keluarga masih membutuhkan inkubator untuk digunakan di rumah.

Pada 11 April 2026 pukul 19.00 WIB, keluarga Syafiq memperoleh fasilitas peminjaman inkubator gratis dari Yayasan Bayi Prematur Indonesia (YABAPI). Inkubator itu kemudian ditempatkan di rumah keluarga di Jalan Kubah Terbang, Gang Bersama, Dusun 1, Desa Sigara-gara, Medan.

Kini Syafiq dapat menjalani masa pemulihan di rumah. Ia bisa tetap berada dalam suhu ideal sekaligus dikelilingi orang-orang yang mencintainya. Di rumah sederhana tersebut, inkubator bukan lagi sekadar alat kesehatan. Benda itu menjadi simbol harapan baru.

Setiap hari Habibah duduk di dekat inkubator, memperhatikan gerakan kecil putranya. Anwar Hadi memastikan ruangan tetap nyaman dan aman. Nenek serta anggota keluarga lainnya ikut memberikan dukungan tanpa henti.

Saat mulai menggunakan inkubator di rumah, berat badan Syafiq sekitar 1.300 gram. Sedikit demi sedikit kondisinya membaik. Berat badannya terus bertambah dan tubuh mungilnya semakin kuat.

Muhammad Al Syafiq hanyalah satu dari ribuan bayi prematur yang mendapatkan kesempatan hidup lebih baik melalui program peminjaman inkubator gratis YABAPI.

Co-Founder YABAPI, Arbi Riantono, mengungkapkan yayasan tersebut berawal dari hasil penelitian akademisi di bidang teknik.

Arbi Riantono
Arbi Riantono, Co-Founder YABAPI

“Awalnya kami berpikir untuk mengomersialkan inkubator yang kami buat. Tapi akhirnya kami memilih jalan sosial. Sejak 2012 kami meminjamkannya secara gratis kepada bayi yang membutuhkan,” ujarnya kepada Nyata di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat beberapa waktu lalu.

Menurut Arbi, inkubator buatan Indonesia tersebut memang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan utama bayi prematur, yakni menjaga suhu tubuh tetap stabil di kisaran 33 hingga 35 derajat Celsius.

“Fungsi utamanya memang menghangatkan tubuh bayi karena organ bayi prematur belum matang,” jelasnya.

Tak hanya hemat listrik dengan konsumsi sekitar 50 watt, inkubator tersebut juga memiliki bobot hanya 13 kilogram, mudah dibongkar-pasang sehingga dapat dikirim hingga ke daerah terpencil.

“Kami mengklaim ini merupakan inkubator yang paling senyap dan menggunakan sirkulasi udara alami,” katanya.

Sejak pertama kali dijalankan pada 2012 hingga Desember 2025, YABAPI telah memiliki sekitar 380 unit inkubator yang tersebar di 170 titik relawan di seluruh Indonesia. Sebanyak 66 persen berada di Pulau Jawa, sementara sisanya tersebar mulai Aceh hingga Papua.

Lebih membanggakan lagi, program sosial ini telah membantu sekitar 7.700 bayi prematur. Meski demikian, Arbi mengakui permintaan masih jauh lebih besar dibanding jumlah inkubator yang tersedia.

“Kami masih sering harus menolak permintaan karena unitnya belum mencukupi,” ungkapnya.

Yang menarik, YABAPI tidak pernah membedakan latar belakang ekonomi keluarga peminjam. “Yang penting ada bayi prematur yang membutuhkan, pasti kami bantu,” tegas Arbi.

Menurutnya, ada keluarga yang bahkan tidak memiliki identitas resmi, tetapi ada pula keluarga berkecukupan yang datang menggunakan mobil mewah. “Semua kami perlakukan sama. Fokus kami menyelamatkan bayinya,” katanya.

Orang tua cukup menghubungi WhatsApp Center YABAPI yang mudah ditemukan lewat pencarian Google. Kemudian, mengirimkan data dasar mengenai bayi dan lokasi tempat tinggal. Setelah itu, relawan terdekat akan mengantarkan inkubator ke rumah apabila keluarga tidak memiliki kendaraan.

Perjalanan Muhammad Al Syafiq mengingatkan bahwa perjuangan bayi prematur tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi medis.

Kasih sayang orang tua, perhatian keluarga, serta kepedulian masyarakat melalui program seperti yang dijalankan YABAPI menjadi bagian penting dalam menyelamatkan kehidupan. (*)